Pagi tadi, di meja kesayangan saya di coworking space, saya dengar obrolan dua orang yang baru kenal. Yang satu pakai hoodie hitam, yang satu lagi kemeja linen warna krem. Sepertinya mereka anak muda pekerja (atau pendiri?) perusahaan rintisan. Mereka sama-sama menatap layar laptop, membuka slide pitch, lalu kata legacy muncul berkali-kali. “Gue pengin bikin impact yang meaningful,” si hoodie bilang. Temannya mengangguk, menyesap es kopi susu yang gelasnya penuh embun, lalu menimpali, “Biar nanti selalu dikenang, ya. Kayak, nama lo tuh abadi.” ...