Seni Kecewa dan Mengecewakan Orang Lain
Judulnya agak nyesek, ya: “Seni Kecewa dan Mengecewakan Orang Lain.” Tapi justru di situ letak kedewasaannya. Karena cepat atau lambat, kita akan sampai di titik ini: kita nggak bisa jadi “orang baik” versi semua orang tanpa pelan-pelan kehilangan diri sendiri. Dan jujur aja, jadi orang yang selalu mengiyakan itu bukan berarti selalu baik. Kadang itu cuma cara halus buat menghindari konflik. Kedengarannya damai, tapi inside? Capek. Saya pernah jadi yes person yang levelnya sudah kayak subscription ChatGPT: semua orang tinggal request, saya tinggal kasih respon atau approval. ...