Pernah nggak sih kita lagi apes, mulut refleks bilang, “Ya gimana, keadaan emang begini”? Macet bikin telat, ekonomi bikin seret, atasan bikin mumet, keluarga bikin drama, pasangan bikin baper. Rasanya semua faktor di luar diri kita kompak ngerjain kita. Dan jujur, menyalahkan keadaan itu terasa relieving. Berasa kita dapat izin untuk berhenti mikir, berhenti usaha, berhenti berharap.
Masalahnya, kalau kita terlalu nyaman di situ, kita pelan-pelan menyerahkan remote hidup ke tangan “nasib”.
Saya nggak bilang hidup itu adil.
Hidup sering random, kadang kejam, dan sering nggak minta persetujuan sebelum ngasih ujian. Banyak kejadian memang bukan salah kita: kena PHK karena perusahaan salah strategi, ditinggal pasangan karena dia belum selesai dengan dirinya, lahir dari keluarga yang unik dengan paket luka turun-temurun, atau tumbuh di lingkungan tanpa privilege.
Kita boleh marah. Kita boleh sedih. Kita boleh capek. Tapi setelah emosi itu lewat, ada satu kalimat yang mengubah segalanya: mengatasi situasi tetap jadi tanggung jawab kita.
Bukan karena kita penyebabnya, tapi karena memang hidup dan konsekuensi itu satu paket.
Bayangin gini. Kamu lagi nyetir, tiba-tiba mobil belakang nabrak. Jelas itu bukan salah kamu. Tapi setelah itu, kamu tetap yang harus turun, cek kondisi, telepon asuransi, bawa mobil ke bengkel, atur jadwal, mungkin batalin meeting. Kamu bisa berdiri di pinggir jalan sambil teriak “Ini bukan salah gue!” sampai suara habis. Fakta itu benar, tapi mobil tetap penyok.
Hidup juga begitu. Kebenaran “ini bukan salah saya” nggak otomatis jadi solusi. Solusinya muncul saat kita ambil alih langkah berikutnya.
Saya suka ide dari Stoik yang simpel: yang bikin kita berantakan sering kali bukan peristiwanya, tapi penilaian kita tentang peristiwa itu.
Epictetus menulis, “It is not the things themselves that disturb people but their judgements about those things.” (kurang lebih: bukan kejadian yang mengacaukan kita, tapi cara kita menilainya). (viastoica.com)
Kalau bos ngomel, itu kejadian. Tapi kalau kita menilai diri “gue emang nggak becus”, baru itu yang bikin mental anjlok.
Kalau pasangan slow respon, itu fakta. Tapi kalau kita langsung menilai “dia pasti udah nggak sayang”, kita bikin drama sendiri di kepala, dan kita yang jadi penonton sekaligus korbannya.
Di sini kita masuk ke bagian yang sering bikin orang salah paham: tanggung jawab bukan berarti menyalahkan diri.
Tanggung jawab itu bukan “semua salah saya”. Tanggung jawab itu “semua respons saya”.
Kita boleh mengakui pengaruh faktor luar, tapi kita tetap pilih sikap, pilihan, dan kebiasaan setelahnya.
Ada beda energi yang kerasa banget antara “kenapa ini terjadi ke saya?” dan “oke, ini terjadi, lalu apa langkah saya sekarang?” Pertanyaan pertama bikin kita muter di labirin. Pertanyaan kedua bikin kita cari pintu keluar.
Ada kutipan yang sering beredar dan sering dikaitkan dengan Viktor Frankl: “Between stimulus and response there is a space… In that space is our power to choose our response…” (Goodreads) Catatan penting: Viktor Frankl Institute menyebut ini “alleged quote” (atribusi populer, asal persisnya diperdebatkan). (viktorfrankl.org)
Tapi idenya tetap kuat: selalu ada jeda kecil antara kejadian dan reaksi. Jeda itu mungkin cuma satu tarikan napas. Tapi justru di situ kita pegang kendali. Kita bisa pilih respons yang bikin hidup makin hancur, atau respons yang pelan-pelan merapikan.
Kita coba masuk ke cerita yang lebih “real life”.
Misal, kamu kena PHK. Kamu nggak minta itu. Kamu mungkin kerja bagus, tapi perusahaan collapse. Hari itu kamu pulang, kepala panas, dada sesak, dan WhatsApp grup kantor mendadak senyap. Besoknya tagihan tetap datang, cicilan tetap jalan, dan orang rumah tetap nanya, “Gimana?”
Kalau kamu habiskan minggu-minggu berikutnya untuk menyalahkan kantor lama, ya wajar secara emosi, tapi dompet nggak ikut terhibur.
Di sisi lain, kalau kamu bilang ke diri sendiri: “Oke, ini nggak adil. Tapi saya tetap perlu bikin plan,” kamu mulai bergerak. Update CV, hubungi teman, ambil freelance kecil dulu, rapihin LinkedIn, potong pengeluaran yang nggak penting.
Kamu nggak menghapus rasa sakit, tapi kamu mengubah arah hidup setelah kejadian itu.
Hal yang sama terjadi dalam relasi. Kadang kita dapat pasangan yang belum selesai dengan komitmen, atau kita ketemu orang yang manis di awal lalu menghilang. Itu bukan salah kita. Kita cuma datang dengan niat baik.
Tapi setelah luka terjadi, kita tetap bertanggung jawab atas cara kita pulih. Kita yang memilih: mau terus stalking, membandingkan diri, dan hidup dalam “kenapa dia begitu?”, atau mau jujur mengakui luka, bikin batas, dan belajar memilih orang yang lebih sehat.
Tangisan itu manusiawi. Tapi keputusan setelah tangisan itu yang menentukan kualitas hidup kita.
Ini satu kutipan dari Goenawan Mohamad yang relevan secara sosial: “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial.” (Goodreads)
Ini menarik karena banyak orang menyalahkan dunia yang toxic sambil mengisolasi diri total. Padahal, saat kita ambil peran kecil, jadi teman yang hadir, jadi rekan kerja yang bisa diandalkan, jadi warga yang peduli, kita membangun rasa bermakna.
Tanggung jawab sosial bukan beban doang; sering kali itu jangkar yang bikin kita nggak kebawa arus drama batin sendiri.
Praktiknya gimana, biar ini nggak berhenti jadi wacana? Saya pakai tiga langkah simpel saat otak mulai ingin menyalahkan keadaan.
-
Pisahkan fakta dan cerita. Tulis satu kalimat fakta tanpa bumbu: “Saya kehilangan pekerjaan.” “Saya ditolak klien.” “Saya gagal disiplin olahraga minggu ini.” Habis itu tulis cerita di kepala: “Saya nggak berharga.” “Saya pasti selalu gagal.” Cerita itu yang perlu kita koreksi.
-
Ambil satu keputusan kecil yang bisa kita kontrol hari ini. Bukan rencana 6 bulan yang fantastis. Satu langkah: kirim 3 lamaran, rapihin portofolio 30 menit, jalan kaki 20 menit, tidur lebih cepat, stop doomscrolling. Tanggung jawab itu hadir dalam bentuk kecil, tapi konsisten.
-
Tukar kalimat “kenapa” jadi “apa”. Ganti “kenapa hidup begini?” jadi “apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Ini trik efektif tentang cara memindahkan fokus dari hal yang nggak bisa kita ubah ke hal yang bisa kita lakukan.
Kalau kita rangkum semuanya, intinya gini: hidup nggak selalu memberi kita kartu yang bagus, tapi hidup selalu menagih cara kita memainkan kartu itu.
Kita nggak perlu pura-pura kuat, nggak perlu sok bijak 24/7.
Kita cukup jujur: “Ini berat.”
Lalu lanjut dengan kalimat berikutnya: “Saya tetap pegang kendali untuk menentukan respons saya.”
Di situ letak power yang paling real. Bukan power ala motivator yang teriak-teriak, tapi power yang diam-diam mengubah arah nasib, hari demi hari.