Pagi tadi, di meja kesayangan saya di coworking space, saya dengar obrolan dua orang yang baru kenal. Yang satu pakai hoodie hitam, yang satu lagi kemeja linen warna krem. Sepertinya mereka anak muda pekerja (atau pendiri?) perusahaan rintisan. Mereka sama-sama menatap layar laptop, membuka slide pitch, lalu kata legacy muncul berkali-kali.

“Gue pengin bikin impact yang meaningful,” si hoodie bilang.

Temannya mengangguk, menyesap es kopi susu yang gelasnya penuh embun, lalu menimpali, “Biar nanti selalu dikenang, ya. Kayak, nama lo tuh abadi.”

Saya menahan senyum kecil karena kalimat “biar nanti” itu melayang santai, padahal “nanti” yang dimaksud ukurannya jauh lebih besar daripada spreadsheet mana pun.

Saya teringat hari Minggu lalu, siang hari, saya datang ke pemakaman yang jalannya sempit dan berlubang.Ban motor saya sempat nyelonong ke genangan air warna cokelat.

Di bawah tenda biru, ada kursi plastik yang kaki depannya miring, dan di meja kecil, termos teh manis berdampingan dengan biskuit kaleng yang tutupnya penyok.

Orang-orang menyebut almarhum dengan versi terbaiknya: rajin, dermawan, pekerja keras—seolah-olah kalimat itu bisa jadi plakat permanen. Seorang paman berbisik pelan, “Beliau sosok yang mengagumkan.”

Di samping nisan yang baru, karangan bunga berjejer, pita-pitanya bertuliskan nama kantor dan komunitas, lengkap dengan font yang terlalu tebal.

Saya melihat seorang anak kecil menendang kerikil kecil-kecil. Terlihat bosan, dan bertanya ke ibunya, “Kapan pulang? Aku mau es krim.”

Celetukan itu seperti reminder bahwa hidup tetap minta jatah sore itu, bahkan di tengah upacara perpisahan.

Di bagian belakang pemakaman, ada deretan nisan yang tulisan namanya hampir hilang. Matahari miring, dan saya harus memicingkan mata untuk membaca huruf yang tersisa: cuma dua angka tahun yang masih jelas, “19—” dan “20—”, sisanya seperti digosok pelan oleh musim.

Ada botol plastik Aqua yang terjepit rerumputan. Labelnya sobek. Entah siapa yang meninggalkan botol itu tanpa merasa bersalah tidak membuangnya ke tempat sampah.

Saya berdiri agak lama di situ dan menyadari betapa cepat sebuah “nama” berubah jadi tekstur pudar. Tanpa drama. Tanpa teriakan.

Malamnya, saya buka ponsel dan mendapati orang-orang tetap sibuk memoles “jejak”: feed tersusun rapi, carousel panjang karya ChatGPT, caption yang seperti proposal.

Seorang teman memotret dirinya di depan rak buku dengan lampu warm, lalu menulis tentang “building a legacy” sambil menyebut angka, “3.200 orang sudah terinspirasi.”

Di story berikutnya, ia memperlihatkan Notion board berjudul “Legacy Plan 2026” dengan tiga kolom: “Personal Brand”, “Assets”, “Impact”. Ada juga foto sepatu lari yang solnya masih bersih, seolah-olah kaki baru saja diseret untuk ikut narasi.

Saya membayangkan dia mengetik itu jam 00.30, sambil menunggu engagement naik. Saya tidak menertawakan usahanya .Saya cuma merasa kata legacy sudah overrated. Seperti parfum: disemprot sedikit supaya hidup yang biasa-biasa saja terlihat lebih bergaya.

Satu-satunya momen legacy yang terasa jujur buat saya justru datang dari hal remeh: sore hari di toko buku bekas, saya menemukan buku catatan tua dengan sampul kulit sintetis yang retak di sudutnya.

Di halaman pertama, seseorang menulis pakai pulpen biru yang tintanya sudah pudar: “Fame is a vapor… the only earthly certainty is oblivion.” Saya tidak tahu tangan siapa yang menulisnya, tapi kalimat itu menempel seperti bekas sidik jari di kaca.

Versi kutipan ini sering dikaitkan dengan Horace Greeley dan juga muncul dalam catatan Mark Twain. Intinya sama: ketenaran itu menguap, yang pasti cuma untuk dilupakan. (quoteinvestigator.com)

Kalau saya jujur, obsesi ingin dikenang sering terasa seperti kita menyicil rumah yang kita tidak akan sempat tempati.

Malam hari, saat saya mengaduk mi rebus di panci kecil, bau bawang goreng memenuhi dapur kos, dan tetangga sebelah memutar dangdut pelan dari speaker Bluetooth.

Di momen seperti ini, sejarah tidak hadir sebagai panggung besar; yang ada cuma sendok kayu, kompor yang apinya suka ngambek, dan perut yang minta disayang.

Saya lebih ingat rasa pedas yang ternyata tak tertahankan, daripada impact yang belum terjadi.

Dan anehnya, bagian hidup yang paling nyata sering kali justru yang tidak punya dokumentasi: tidak ada foto, tidak ada thread, tidak ada tepuk tangan.

Saya pernah baca Joan Didion bilang, “I write entirely to find out what I’m thinking…”. Dia menulis untuk mengetahui apa yang dia pikirkan dan lihat. (Literary Hub)

Terbayang dia duduk di meja, mungkin dengan kertas berserakan dan lampu meja yang cahayanya fokus di satu titik. Makna kalimat itu bagi saya fantastis: bukan “menulis untuk dikenang”, tapi menulis untuk mengerti hari ini.

Saya merasakan versi kecilnya saat saya mengetik di notes ponsel: dua kalimat tentang obrolan siang tadi, satu kalimat tentang ibu yang telepon jam 19.05 menanyakan “kamu sudah makan belum?”.

Tidak ada yang heroik. Tapi isi kepala terasa lebih rapi dan ringan.

Di sisi lain, saya juga ingat kutipan Dee Lestari yang nyangkut di kepala saya sejak lama: “Momentum tidak dapat dikejar. Momentum hadir.” (Goodreads)

Saya tidak menempelnya sebagai slogan; saya melihatnya sebagai kejadian nyata waktu saya di warung kopi. Barista salah bikin pesanan saya. Harusnya es kopi, malah dia sajikan panas. Dia gugup dan bilang, “Maaf, Kak, otak saya ngelag.”

Saya tertawa kecil meneteramkannya, dan obrolan satu menit itu malah jadi bagian hari yang paling ringan. Bukan karena legacy, tapi karena ada momen kecil yang kebetulan hadir dan kita tidak merusaknya dengan ambisi berlebihan.

Terkadang, “hidup untuk keabadian” membuat kita menunda hal yang betul-betul bisa kita nikmati.

Seorang kenalan menolak ajakan makan sate karena sibuk ngerjain personal manifesto. Ia duduk di teras, memandangi laptop yang baterainya tinggal 12%, lalu memotret halaman kosong dengan caption tentang “building the future me”.

Sementara di luar, tukang sate mengipas arang, asapnya naik tipis, dan suara “ctt… ctt…” dari lemak yang jatuh itu seperti panggilan yang sederhana.

Saya tidak bilang dia salah. Saya cuma melihat bagaimana kita sering memilih sesuatu yang terasa besar karena takut sesuatu yang sederhana dianggap tidak penting.

Ada momen ketika saya sadar “bodo amat dengan legacy” bukan berarti hidup jadi asal-asalan.

Saat saya menyeberang jalan, menahan motor yang ngebut, saya melihat bapak-bapak ojek online membantu seorang ibu mengangkat galon ke teras rumahnya.

Tidak ada yang memvideokan. Tidak ada yang memberi medali. Tapi gerakan tangannya tegas, galonnya berat, dan ibu itu bilang, “Matur nuwun, Nak,” sambil menyelipkan uang sepuluh ribu yang ditolak halus.

Kalau kelak dunia melupakan nama mereka, ya sudah. Adegan itu tetap nyata pada detik itu, dan saya merasa cukup melihatnya.

Satu hal yang membantu saya adalah mengingat bahwa sejarah punya selera sendiri, dan kita tidak memegang remote-nya.

Sudah lewat tengah malam saat saya menutup laptop, mematikan lampu kamar, dan membiarkan kipas angin bunyi “krek-krek” kecil seperti biasa.

Besok pagi, saya tetap harus bangun, tetap harus mandi, tetap harus membalas chat yang menumpuk. Dan kalau suatu hari tidak ada yang mengingat saya, setidaknya saya sempat menjalani hari ini dengan versi diri yang sejati, tanpa kepura-puraan.