Dulu, hari-hari saya sering dipenuhi oleh macam-macam pikiran. “Aduh, kapan hari saya ngomong gitu di grup, orang-orang bakal mikir apa ya?” Padahal sudah lewat berhari-hari. Masih saja kepikiran sampai terbawa mimpi. Bangun pagi, belum sikat gigi, tapi otak udah kerja rodi ngurusin opini manusia sedunia tentang saya.
Waktu itu saya lagi nongkrong di satu kafe kecil yang sok minimalis, you know lah yang menunya pakai bahasa Inggris semua biar kelihatan “artisanal”. Saya duduk bareng teman lama, sebut aja Raka. Dia tipe yang santai banget, kayak hidupnya punya tombol mute buat drama. Sementara saya? Kejebak di mode overthinking pro max.
Saya curhat. “Raka, gue capek ya. Kayak semua hal harus perfect. Takut salah ngomong, takut dikira aneh, takut di-cancel.”
Raka nyeruput kopi pelan, terus bilang, “Lo capek karena lo ngasih terlalu banyak fck* ke hal yang nggak penting.”
Saya ketawa. Menyembunyikan persetujuan saya atas kata-kata Raka. Saya tertohok kebenaran secara diam-diam.
Hidup saya yang kebanyakan mikirin omongan orang
Saya dulu gampang banget kebawa omongan orang. Ada satu komentar di Instagram (cuma satu!) bisa bikin mood saya ambyar seharian.
Kamu mungkin pernah juga: 99 orang bilang bagus, 1 orang bilang “kok gitu?”, yang nempel di kepala ya si 1 orang itu.
Saya jadi orang yang “sibuk” tapi nggak produktif. Sibuk ngatur image. Sibuk nyusun kalimat biar aman ketika ngobrol dadakan sama atasan. Sibuk mikir, “Kalau saya pilih A, mereka gimana?” Padahal yang ngejalanin hidup saya ya saya, bukan “mereka”.
Dan lucunya, “mereka” itu seringnya bahkan nggak peduli. Mereka cuma lewat, komentar, terus lanjut hidupnya. Sedangkan saya? Saya simpan itu kayak arsip negara, rapi di laci-laci ingatan.
Di titik itu saya baru paham: kalau kita terlalu pusing mikirin omongan orang lain, hidup kita jadi kayak rumah tanpa pagar. Semua orang boleh masuk, ngatur sofa, dan kita yang malah bilang makasih atas intervensi mereka.
Yang tahu apa yang bener-bener terjadi itu diri kita
Ada satu kejadian yang bikin saya mulai wake up.
Tim saya dulu isinya orang-orang pinter. Good for growth, kata orang. Tapi juga toxic, kalau kamu ketemu yang hobinya judging. Saya presentasi, ada satu orang senior yang nyeletuk, “Kamu kurang siap, ya.”
Saya langsung panas dingin. Pulang-pulang saya replay momen itu berulang-ulang. Saya bikin skenario: besok mereka ngomongin saya, minggu depan saya dianggap beban, bulan depan saya di-kick dari proyek.
Padahal kenyataannya? Saya memang kurang siap di satu bagian, tapi overall kerjaan saya oke, kok. Saya tahu saya begadang, saya tahu saya effort. Saya tahu konteks. Saya tahu saya pekerja keras.
Yang senior itu cuma lihat 10 menit versi saya di ruang meeting. Sementara saya hidup 24 jam di kepala saya sendiri. Jadi siapa yang paling tahu cerita lengkapnya? Ya saya.
Raka pernah ngomong, “Yang penting bukan orang lain bilang apa, tapi diri lo sendiri ngerti lo lagi ngapain.”
Dan itu nyambung sama ide Mark Manson di The Subtle Art of Not Giving a Fck*. Ada kalimat dari buku itu yang saya inget karena simpel tapi nyelekit: “You are not special.”. Kalimat ini bukan buat ngejatuhin kita, tapi buat ngelepas beban: kamu nggak perlu jadi pusat penilaian semua orang. Hidup itu nggak sedramatis itu.
Dan justru karena kita “nggak spesial-spesial amat”, kita boleh santai.
“Bodo amat lifestyle” itu bukan seenaknya jadi cuek dan jahat
Nah, ini bagian yang sering disalahpahami.
“Bodo amat” bukan berarti kamu jadi orang yang nggak punya empati, nggak peduli konsekuensi, atau asal tabrak. Bukan. “Bodo amat lifestyle” versi sehat itu lebih kayak: kamu selektif. Kamu milih dengan sadar, f*ck kamu itu dipakai buat apa.
Mark Manson juga bilang: “The desire for more positive experience is itself a negative experience.”. Saya suka banget ini, karena relate: makin kita ngejar validasi biar semua orang happy sama kita, makin kita capek sendiri. Kita jadi budak “harus disukai”.
Bodo amat yang sehat itu: saya tetap baik, tetap punya value, tapi saya stop jadi budak ekspektasi orang lain.
Fokus ke hal-hal dan orang yang beneran peduli
Oke, saya kasih cerita yang paling membekas buat saya.
Ada masa saya lagi down, dan saya merasa “kok saya sendirian ya?” Tapi ternyata bukan sendirian. Saya cuma salah menyalurkan energi.
Saya dulu punya circle yang rame. Grup chat aktif, story dibales, jokes bertebaran. Tapi pas saya beneran butuh, misal cuma pengin ditemenin jalan sebentar, yang bales cuma dua orang. Dua. Yang lain hilang, seen doang, atau bilang “nanti ya” yang nggak pernah kejadian.
Awalnya saya sedih. Tapi abis itu saya mikir: mungkin hidup lagi ngajarin saya pentingnya filter.
Di situ saya mulai ngerti: nggak penting ngumpulin sebanyak mungkin orang. Lebih baik, menjaga yang memang hadir. Mereka datang dengan tindakan, bukan dengan komentar doang.
Mark Manson punya kalimat yang juga saya catat: “Who you choose to give a f*ck about is what will define your life.”. Ini kayak reminder: energi kita terbatas. Kita nggak bisa nyenengin semua orang. Jadi, ya terapkan filter.
Akhirnya saya bikin semacam “daftar prioritas” versi simple:
- Diri saya sendiri: kesehatan, tidur, mental, tujuan.
- Orang inti: keluarga, sahabat beneran, pasangan.
- Kerjaan yang meaningful: bukan yang bikin saya merasa kosong dan jadi robot.
- Baru sisanya: opini random, drama kecil, komentar strangers.
Dan sejak itu, hidup rasanya lebih… ringan. Tentu saja, masalah tetap saja ada. Tapi saya nggak lagi ngasih panggung buat hal-hal yang nggak layak.
Praktik “bodo amat” sehari-hari (yang realistis)
Kalau kamu pengin mulai, saya saranin bukan dengan revolusi besar, tapi dengan kebiasaan kecil:
- Berhenti jelasin diri kamu ke semua orang. Nggak semua orang butuh penjelasan, dan nggak semua orang pantas dikasih akses ke cerita kamu.
- Tanya ini ke diri kamu: “Ini penting nggak buat hidup saya 6 bulan lagi?” Kalau jawabannya nggak, ya… let it go.
- Bikin batasan (boundaries) tanpa merasa bersalah. Kamu boleh nolak. Kamu boleh nggak available. Kamu bukan customer service.
- Rawat circle kecil yang konsisten. Bukan yang paling rame, tapi yang paling hadir. Yang (hampir) selalu ada.
Hidup kita bukan ruang sidang
Kalau hari ini kamu lagi capek karena kebanyakan mikirin omongan orang, saya cuma mau bilang: kamu nggak sendirian. Tapi kamu juga nggak harus tinggal di situ.
Hidup kita bukan ruang sidang. Kita bukan terdakwa. Dan orang-orang yang hobi nge-judge… seringnya lagi berantem sama hidup mereka sendiri.
Jadi, coba pelan-pelan: simpan energi kita buat hal yang beneran matters. Buat orang yang beneran peduli. Buat diri kamu yang tiap hari bangun, jalanin hidup, dan kadang cuma butuh napas tanpa beban.
Dan kalau suatu saat kamu ke-trigger lagi sama omongan orang, ingat aja: kamu boleh dengar, tapi kamu nggak wajib percaya. Kamu yang pegang remote.
Yang lain?
Bodo amat.