Judulnya agak nyesek, ya: “Seni Kecewa dan Mengecewakan Orang Lain.” Tapi justru di situ letak kedewasaannya. Karena cepat atau lambat, kita akan sampai di titik ini: kita nggak bisa jadi “orang baik” versi semua orang tanpa pelan-pelan kehilangan diri sendiri. Dan jujur aja, jadi orang yang selalu mengiyakan itu bukan berarti selalu baik. Kadang itu cuma cara halus buat menghindari konflik. Kedengarannya damai, tapi inside? Capek.

Saya pernah jadi yes person yang levelnya sudah kayak subscription ChatGPT: semua orang tinggal request, saya tinggal kasih respon atau approval.

Teman minta ditemenin curhat jam 11 malam? No problem. Ada yang minta dibantuin kerjaan padahal itu tugas dia? Saya bantuin. Ada keluarga minta saya ikut acara yang sebenernya saya nggak sanggup? Saya ikut, memaksakan diri, dan menyimpan lelah di balik senyum.

Waktu itu saya pikir: “Kalau saya bisa bikin orang lain happy, berarti saya orang baik.”

Plot twist: saya justru makin sering kecewa. Kecewa karena merasa dimanfaatkan. Kecewa karena merasa nggak dianggap. Kecewa karena kok rasanya saya ini ada cuma saat dibutuhkan.

Yang paling lucu (dan pahit) adalah: saya kecewa sama orang lain, tapi saya juga… mengecewakan diri sendiri.

Titik balik: ketika “baik” mulai terasa seperti beban

Ada satu momen yang bikin saya kebangun. Teman dekat ngajak ketemu. Saya lagi super burnout, kerjaan numpuk, kepala rasanya kayak peramban Chrome dengan puluhan tab terbuka. Saya bilang, “Boleh, tapi weekend ini saya pengen istirahat.” Dia langsung jawab, “Ah kamu berubah, sekarang susah diajak ketemu.”

Dan di situlah saya ngerasa: oh, jadi selama ini standar kedekatan kita adalah sejauh mana saya bisa mengorbankan diri demi bertemu dia?

Saya pulang, dan perasaan saya campur aduk: sedih, marah, bersalah. Tapi juga lega sedikit karena akhirnya saya jujur. Saya baru sadar, kadang kita takut mengecewakan orang lain karena kita menganggap reaksi mereka sebagai nilai diri kita. Padahal, reaksi mereka itu bukan rapor hidup kita.

Di momen itu, saya keinget kutipan dari Brené Brown: “Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves even when we risk disappointing others.” Intinya: berani bikin batas itu butuh keberanian buat sayang sama diri sendiri, meski risikonya orang lain kecewa.

Dan yes, orang bisa kecewa. Bodo amat. It’s part of the package.

Kita kecewa karena ekspektasi, bukan karena fakta

Sering kali, rasa kecewa lahir dari ekspektasi yang nggak diomongin. Misalnya, kita berharap orang peka. Kita berharap orang ngerti kamu capek. Kita berharap orang “pasti” bantu kalau kita bantu mereka. Tapi kenyataannya, ekspektasi tanpa komunikasi itu kayak ngirim pesan tanpa sinyal: kita merasa sudah “mengirim”, tapi yang sana nggak pernah “menerima”.

Di sini saya suka kutipan Mark Manson: “You are not responsible for other people’s emotions.” Kita bukan penanggung jawab emosi orang lain. Kita boleh peduli, tapi bukan berarti kita harus mengorbankan diri sampai habis cuma buat menjaga mood mereka stabil.

Kalau ada yang kecewa saat kita bilang “nggak”, itu belum tentu karena kita jahat. Bisa jadi mereka cuma terbiasa kita selalu bilang “iya”.

Boundaries itu bukan tembok, tapi pagar

Banyak orang salah paham: boundaries dianggap kasar, dingin, atau “nggak asik”. Padahal boundaries itu kayak pagar rumah. Pagar bukan berarti kita membenci tetangga. Pagar itu cuma cara bilang: “Ini area saya. Kamu boleh masuk, tapi ada aturan biar semua aman dan nyaman.”

Boundaries yang sehat itu bukan kalimat panjang penuh teori. Seringnya justru simpel:

  • “Saya nggak bisa malam ini, saya butuh istirahat.”
  • “Saya nggak sanggup ambil kerjaan tambahan minggu ini.”
  • “Saya perlu waktu buat mikir dulu sebelum jawab.”
  • “Saya bisa bantu, tapi bukan sekarang.”
  • “Saya nggak nyaman bahas topik itu.”

Dan ya, awal-awal ngomong gitu rasanya… nggak enak. Ada guilty feeling. Ada rasa takut disangka egois. Ada drama kecil di kepala: “Nanti dia mikir saya sombong nggak ya?”

Tapi di situ latihan dimulai: berdamai dengan rasa tidak enak.

Rasa tidak enak itu harga yang wajar untuk hidup yang waras

Saya belajar satu hal: rasa tidak enak itu bukan tanda kita salah. Kadang itu tanda kita sedang bertumbuh. Karena otak kita suka yang familiar. Dulu familiar-nya: mengalah, menyenangkan, mengiyakan. Sekarang kita mengubah pola. Jadi, wajar tubuh dan pikiran protes.

Saya ingat kutipan Pramoedya Ananta Toer yang sering diparafrasekan: “Hidup adalah bekerja, dan bekerja adalah bertahan.” Buat saya, “bertahan” di sini termasuk bertahan dari tuntutan sosial yang kadang nggak masuk akal. Kita bekerja, kita hidup, kita bertahan. Tapi, bukan berarti kita harus jadi korban permanen dari ekspektasi orang.

Dan ada juga suara yang lebih lembut dari Kahlil Gibran: “Your children are not your children… They come through you but not from you.” Ini konteksnya tentang anak, tapi vibe-nya relevan: orang-orang yang kita sayang bukan “milik” kita, dan kita juga bukan milik mereka. Kita punya ruang hidup sendiri. Mereka punya ruang hidup sendiri.

Seni mengecewakan orang lain, step-by-step versi real life

1. Bedakan “menolak” dan “menolak orangnya” Saat kita bilang “tidak”, yang kita tolak itu permintaannya, bukan orangnya. Kita bisa tetap hangat tanpa harus mengiyakan.

2. Jangan kebanyakan alasan Semakin panjang alasan, semakin kita memberi ruang negosiasi. Cukup: “Saya nggak bisa.” Kalau kita ingin menambahkan, tambahkan yang jelas: “Saya ada komitmen lain.”

3. Gunakan “saya” bukan “kamu” Bukan: “Kamu selalu mendadak.” Tapi: “Saya butuh jadwal yang lebih jelas.”

4. Siapkan diri untuk reaksi orang Ada yang kecewa. Ada yang ngambek. Ada yang guilt-tripping. Itu ujian boundaries. Pagar diuji bukan saat cuaca cerah, tapi saat badai menerpa.

5. Pilih rasa sakit yang kamu mau Ini penting: kita akan tetap sakit, apapun yang kita lakukan. Kalau kita selalu bilang iya, kita sakit karena capek dan resentful. Kalau kita bilang tidak, kita sakit karena rasa bersalah sementara. Pilih yang lebih sehat untuk jiwa kita untuk jangka panjang.

Plot twist: kadang kita juga harus rela orang kecewa sama kita

Mengecewakan orang lain itu bukan tujuan. Tapi itu konsekuensi yang kadang tidak terhindarkan saat kita mulai hidup lebih jujur.

Dan lucunya, setelah beberapa kali saya latihan, saya mulai melihat siapa yang benar-benar peduli. Orang yang sehat biasanya akan bilang: “Oke, istirahat ya.” Orang yang cuma butuh akses akan marah, menyindir, atau bikin saya merasa bersalah.

Di situ saya sadar: boundaries bukan cuma melindungi energi, tapi juga menyaring relasi.

Akhirnya, saya sampai pada kalimat yang sederhana tapi makjleb: saya lebih takut mengecewakan diri sendiri daripada mengecewakan orang lain. Karena saya hidup bareng diri saya tiap hari. Kalau saya terus mengkhianati diri sendiri demi validasi sosial, itu bukan hal yang “baik”. Itu “hilang”.

Jadi kalau sekarang kamu lagi belajar bilang “tidak”, dan kamu merasa jantung kamu deg-degan, tangan kamu dingin, pikiran kamu overthinking, ya, itu normal. Kamu sedang mempraktikkan seni yang nggak diajarin di sekolah: seni menjaga diri tanpa jadi jahat.

Dan kalau ada yang kecewa? Ya udah. Bodo amat. It’s okay. Kita nggak ditugaskan buat memenuhi wishlist orang lain. Kita ditugaskan untuk jadi versi paling waras dari diri sendiri.