Bangun tidur, tangan refleks nyari HP. Bukan buat doa pagi atau stretching, tapi buat cek apa yang semalam viral. Ada seleb putus-nyambung, ada tren quiet luxury, ada drama X vs Y, ada challenge yang bikin orang joget sambil pura-pura pingsan. Pokoknya timeline saya selalu ramai. Kepala saya ikut ramai.

Masalahnya: ramai itu belum tentu bermakna.

Di era media sosial, kita gampang banget kebawa arus. Niat cuma sebentar buka Instagram, tahu-tahu 40 menit hilang. Kita buka TikTok buat cari resep ayam, tahunya malah terbawa info: artis A cerai dengan artis B, terus netizen bikin teori bahwa pernikahan mereka itu disinyalir sebatas lavender marriage. Kita ketawa, kita komentarin, kita share. Setelah itu? Kosong. Nggak ada yang berubah di hidup kita, kecuali baterai yang tinggal 12% dan pikiran yang makin capek.

Di sinilah “seni menutup mata dari tren yang tidak relevan” jadi penting. Bukan berarti jadi orang yang anti-sosial atau sok suci. Kita cuma berusaha pintar memilih: apa yang pantas masuk ke kepala dan hati kita, dan apa yang cukup kita lewatkan aja. Bodo amat, dengan elegan.

Saya kasih contoh yang kadang bikin nyesek.

Ada temen saya, sebut saja Aditya. Di kantor, Aditya kelihatan “aman”. Aktif di meeting, rajin update story hustle culture, suka posting quote produktivitas. Di rumah, dia juga kelihatan stabil: couple goals, weekend brunch, foto berdua yang estetik. Dari luar, hidupnya kelihatan rapi.

Tapi suatu malam, Aditya cerita pelan: dia lagi kejar-kejaran sama cicilan, kartu kredit mulai bengkak, dan tabungan hampir nol. Yang bikin tambah berat, dia selama mempercantik realita. Ke pasangannya, dia bilang keuangan mereka fine. Ke bos, dia bilang proyeknya on track padahal ada yang kelewat. Kenapa? Karena dia takut. Takut kelihatan kalah. Takut dianggap gagal. Takut ketinggalan.

Dan lucunya, ketakutan itu banyak dipantik dari hal-hal yang sebenarnya nggak relevan: timeline yang isinya orang pamer liburan, teman lama yang tiba-tiba terlihat sukses, konten “di umur segini harusnya kamu…”, yang ujung-ujungnya bikin kita ngerasa hidup kita kurang.

Saya ingat satu kalimat yang sering dikutip dari penulis favorit saya, Mark Manson: “You have a limited amount of fucks to give.” Intinya, energi peduli kita itu terbatas. Kalau kita habisin buat tren viral yang cuma numpang lewat, kita nggak punya sisa buat hal yang beneran penting: hubungan yang sehat, kerja yang jujur, mental yang waras, dan keberanian untuk ngomong apa adanya.

Di Indonesia, saya juga suka dengan gaya menohoknya Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Bagi saya, spirit kalimat itu begini: orang boleh sibuk setinggi langit dengan tren ini itu, tapi kalau kita nggak membangun sesuatu yang nyata (karya, karakter, keputusan), kita cuma akan jadi penonton yang capek sendiri. Dan tren akan terus datang, membawa panggung baru untuk orang lain, sementara kita tetap di kursi penonton dengan popcorn yang udah dingin.

Jadi gimana cara “menutup mata” yang bukan sekadar denial, tapi memang pilihan yang sehat?

Pertama, sederhana saja: nggak semua informasi itu perlu kita tahu. Benar-benar sederhana, bukan? Tapi buat banyak orang, ini revolusioner. Karena kita dibesarkan dengan mindset “kudu update”. Padahal tidak ada yang mengharuskan.

Latihan dari hal kecil: setiap kali ada tren baru, saya tanya diri saya tiga pertanyaan:

  1. Apakah ini nambah nilai buat hidup saya 6 bulan lagi? Kalau jawabannya “nggak”, ya udah. Lewatin.

  2. Apakah ini bikin saya lebih baik, atau cuma bikin saya lebih reaktif? Kalau cuma bikin saya pengen komentar pedes atau kepo berlebihan, skip.

  3. Apakah ini relevan dengan masalah yang lagi saya hadapi? Kalau saya lagi pusing finansial, ngapain saya ngikutin drama seleb? Itu cuma bikin saya lupa bayar tagihan untuk sementara.

Kedua, kita perlu sadar bahwa FOMO sering jadi topeng dari masalah yang lebih dalam. Kadang kita merasa “ketinggalan tren” bukan karena tren itu penting, tapi karena kita lagi nggak enak sama hidup sendiri. Lagi insecure. Lagi bingung. Lagi ngerasa stuck. Jadi kita cari distraksi. Dan media sosial itu distraksi paling mudah: cepat, penuh warna, bikin lupa sebentar.

Masalahnya, lupa sebentar itu mahal. Karena masalah asli tetap ada. Bahkan bisa makin parah, karena kita menunda.

Balik ke cerita Aditya. Semakin dia ngejar validasi dari luar, semakin dia menumpuk kebohongan kecil. Ke pasangan: “Aman kok.” Ke bos: “Beres kok.” Kebohongan itu kayak debu di kamar. Satu dua nggak kelihatan. Tapi lama-lama numpuk, bikin sesak, bikin alergi, bikin kita batuk batuk di tengah malam.

Sampai akhirnya, satu hari, pasangannya nemu email tagihan. Bosnya nanya kenapa data belum masuk. Aditya panik. Dan di momen itu, dia sadar: yang dia butuhin bukan tren baru. Yang dia butuhin adalah keberanian untuk ngomong yang benar, walau tidak nyaman.

Ketiga, kita harus bikin “filter”. Bukan buat jadi sombong atau belagu, tapi buat melindungi agar kita tetap fokus. Fokus itu aset. Dan aset itu perlu security system.

Filter saya pribadi simpel:

  • Unfollow akun yang bikin saya merasa kecil tanpa alasan jelas.
  • Mute kata-kata tertentu yang selalu memancing emosi (drama, gosip, rage bait).
  • Batasi waktu sekrol-sekrol, tapi lebih penting: tentukan tujuan sebelum buka aplikasi. Misalnya: “Saya buka 10 menit untuk cari referensi kerja.” Kalau tujuan selesai, keluar. Jangan “sekalian lihat yang lain” karena itu jalan menuju jurang.

Keempat, isi ruang kosong dengan sesuatu yang beneran kita peduli. Ini kunci. Karena kalau kita cuma “menutup mata” tanpa mengganti dengan hal yang meaningful, kita akan balik lagi. Otak manusia nggak suka kekosongan.

Kita bisa isi dengan hal-hal yang real: ngobrol jujur sama pasangan, cek ulang budget, rapihin portfolio, baca buku, olahraga, atau bikin proyek kecil yang kamu tunda. Hal-hal yang hasilnya nggak langsung viral, tapi pelan-pelan bikin hidup kita lebih stabil.

Ada kutipan dari penulis luar yang sering saya inget, dari Cal Newport (yang terkenal dengan konsep deep work): kemampuan untuk fokus tanpa distraksi itu semacam “superpower” di era sekarang. Saya setuju. Karena mayoritas orang kehilangan fokusnya bukan karena kurang pintar, tapi karena kebanyakan konsumsi kebisingan.

Dan kalau saya boleh jujur, “seni menutup mata” itu bukan sekadar soal nggak peduli. Ini soal peduli dengan selektif. Kita tidak akan jadi batu. Kita jadi manusia yang punya prioritas.

Terakhir, ada satu latihan yang lumayan cakep: tulis daftar hal yang benar-benar penting buat kita tahun ini. Misalnya: keuangan beres, hubungan lebih sehat, karier lebih rapi, kesehatan lebih oke, proyek pribadi jalan. Lalu setiap kali ada tren viral lewat, tanya: “Ini bantu daftar saya atau nggak?” Kalau nggak, ya udah—bodo amat. Bomat-in aja.